Tradisi Panajerik Pada Seni Pertunjukan

Artikel oleh Arthur Supardan Nalan, S.Sen, M.Hum, STSI Bandung

Kata kunci: panajerik

Sumber pengambilan dokumen:

Relasi:

Dibuat: 02 Juni 2010

Abstraksi

Tradisi Panajerik Pada Seni Pertunjukan<br />
<br />
Tradisi panajerik (berasal dari kata panagerik, yang artinya puisi/lagu yang dipersembahkan untuk orang yang dihormati atau Raja). Seni pertunjukan di Indonesia tak lepas dari pengaruh tradisi ini. Tradisi ini pada dasarnya merupakan sikap, dengan harapan terpakai atau terpuji oleh patronnya atau dewasa ini oleh sponsornya. Tetapi sisi negatifnya adalah karya ini merupakan karya pesanan yang sudah dapat dipastikan, terdapat keterpihakan pada patron lebih dominan, bahkan tak jarang memuji-muji patron atau mengunggulkan sponsor.<br />
Tradisi panajerik tidaklah buruk, hal ini sangat tergantung dari para senimannya. Komitmen budaya yang melandasi kerja kreatifnya, simak saja Bertoluci dengan The Last Emperornya, meskipun bayang-bayang patronase Cina, Bertoluci tetap objektif tidak nampak keterpihakannya. Tradisi Panajerik pun berdampak positif, yakni dapat meningkatkan ketenaran dan pendapatan seniman penggarapnya. ( 1990)<br />


n/a

Hak Cipta

Copyright (c) 2001 by Perpustakaan STSI. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Kontributor

herry_erawan@stsi-bdg.ac.id