Perkembangan Ronggeng Sebagai Seni Tradisi di Kabupaten Pangandaran

Artikel oleh Nina Herlina Lubis, Undang Ahmad Darsa, ISBI Bandung

Kata kunci: pangandaran, ronggeng, sejarah, kesenian tradisional

Sumber pengambilan dokumen: RJ 2015 PAN I

Relasi:

Dibuat: 26 Februari 2019

Abstraksi

Tulisan ini merupakan hasil penelitian kepustakaan dan lapangan mengenai potensi sosial, ekonomi, politik, dan budaya Kabupaten Pangandaran yang dibiayai oleh Dikti tahun Anggaran 2014. Permasalahan yang dikaji dalam tulisan ini adalah bagaimana sejarah seni ronggeng itu- apakah penyajian seni ronggeng tersebut mengalami perubahan dari waktu ke waktu- Bagaimana upaya pemerintah dalam melestarikan seni ronggeng- Untuk menjawab pertanyaan itu, metode penelitian yang dipergunakan adalah metode sejarah karena penelitian ini dilakukan dalam perspektif historis. Dalam implementasinya, metode sejarah meliputi empat tahap, yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan histografi. Untuk keperluan analisis, tulisan ini dilengkapi dengan konsep dan teori kesenian yang relevan dengan permasalaham yang ada. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada awalnya, kesenian ronggeng menunjukan sifat sakral karena terkait dengan kepercayaan samanisme dan dalam perkembangannya, bergeser menadi bersifat profan. Unsur-unsur negatif yang melekat dalam kesenian ronggeng, secara perlahan dihapus atau diubah sehingga dipandang tidaklagi melanggar norma sosial.


This article is the result of literature and field research on the potential social, economic, political, and cultural panagandaran regency funded by the higer education budget year 2014. The problem is tudied in this article is how the dancers art history- Is the presentation of art ronggeng amended from time to time- How the goverments efforts to preserve the art ronggeng- To answer that question, the research method used is the historical method because the study was conducted in a historical perspective. In the implementation, the method includes the history of the four stages, namely - heuristics, criticism, interpretation, and historiography. For purposes of analysis, this article comes to the concept and theory of art that is relevant to the problem. The result showed that in the beginning, art exhibits ronggeng sacred because it is associated with trust samanisme and in its development, shifted into profane. Negative elements inherent in the art ronggeng, slowly removed or changed so no longer deemed violated social norms.

Hak Cipta

Copyright 2019 ISBI Bandung. Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Kontributor

#